Ketua P4S Soko Jati Cinta Nusantara Kunjungi Duta Pengangguran Kota Malang, Pelajari Pengembangan Greenhouse Anggur dan Teknologi Budidaya

Malang, 7 Juli 2026 – Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Soko Jati Cinta Nusantara melakukan kunjungan ke Duta Pengangguran Kota Malang yang berlokasi di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Kampus 2 Malang. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring pembelajaran dan pertukaran pengetahuan antar-pelaku pertanian, khususnya dalam pengembangan budidaya anggur berbasis greenhouse, teknologi budidaya, serta pengembangan model usaha pertanian yang memiliki nilai ekonomi.

Dalam pertemuan tersebut, Ketua P4S Soko Jati Cinta Nusantara berdiskusi langsung dengan Dwi Suppriyanto, pengelola Duta Pengangguran, mengenai perjalanan pengembangan budidaya anggur yang telah dilakukan sejak 2017. Diskusi berlangsung secara terbuka dengan membahas perjalanan usaha, proses pembelajaran teknologi, pengembangan teknik budidaya, hingga peluang pengembangan greenhouse sebagai model investasi pertanian.

Berawal dari Praktik Lapangan, Berkembang melalui Pembelajaran Teknologi

Dwi Suppriyanto menjelaskan bahwa pengembangan budidaya anggur yang dilakukannya telah dimulai sejak 2017. Pada tahap awal, kegiatan tersebut lebih banyak dilakukan melalui proses belajar dan praktik secara langsung di lapangan.

Ia mengakui bahwa pada masa awal pengembangan, keterbatasan pengetahuan pertanian menjadi salah satu tantangan. Bahkan, dari sisi ekonomi, kegiatan tersebut belum dapat langsung dijadikan sebagai tolok ukur usaha karena masih berada pada tahap pembelajaran dan pengembangan.

Perubahan mulai dirasakan sejak 2023 ketika Dwi mulai mengenal dan mempelajari teknologi budidaya yang berkembang di Thailand dan Jepang. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem budidaya anggur yang diterapkan di greenhouse.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian utama adalah penataan cabang tanaman. Teknik tersebut tidak hanya ditujukan untuk membentuk tanaman agar terlihat rapi dan menarik, tetapi juga digunakan sebagai salah satu indikator dalam memperkirakan potensi produksi.

Menurut Dwi, penataan cabang dapat membantu pengelola memperkirakan kemampuan tanaman dalam menghasilkan buah. Dengan mengetahui struktur dan jumlah cabang produktif, petani dapat memiliki gambaran mengenai potensi hasil yang akan diperoleh pada saat panen.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa estetika tanaman dalam budidaya anggur tidak semata-mata berkaitan dengan aspek keindahan. Penataan tanaman justru menjadi bagian dari manajemen produksi yang berhubungan dengan perencanaan hasil panen.

Teknologi Budidaya Menjadi Kunci Pengembangan Produksi

Pembahasan kemudian berkembang pada berbagai teknik budidaya anggur, mulai dari pembentukan tanaman, pemangkasan, penataan cabang, hingga pengelolaan tanaman untuk menghasilkan produksi yang optimal.

Dwi menjelaskan bahwa proses pembelajaran tidak berhenti pada satu teknik tertentu. Pola budidaya dipelajari sejak tahap awal penanaman hingga tanaman menghasilkan buah. Setiap tahapan memiliki perlakuan yang berbeda dan harus dipahami secara menyeluruh agar petani dapat memperoleh hasil sesuai dengan target.

Dalam proses tersebut, pengalaman lapangan menjadi bagian penting dari pembelajaran. Teknik yang dipelajari kemudian diterapkan, diamati, dan dievaluasi berdasarkan kondisi tanaman.

Pendekatan ini menjadi salah satu karakter penting Duta Pengangguran sebagai tempat pelatihan. Greenhouse tidak hanya dimanfaatkan sebagai tempat produksi, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran bagi masyarakat dan peserta pelatihan.

Pelatihan Pertanian Menjadi Aktivitas Utama

Duta Pengangguran merupakan salah satu P4S yang memiliki aktivitas pelatihan cukup padat. Intensitas kegiatan tersebut bahkan menjadi salah satu alasan Duta Pengangguran mendapatkan apresiasi dari P4S Jawa Timur.

Dalam satu bulan, kegiatan pelatihan yang berlangsung di lokasi tersebut dapat mencapai sekitar 23 kegiatan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa fungsi greenhouse tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk pertanian, tetapi juga menjadi sarana pendidikan dan transfer teknologi.

Padatnya aktivitas pelatihan juga menjadi salah satu pertimbangan dalam penggunaan teknologi Internet of Things (IoT). Menurut Dwi, pemanfaatan IoT di greenhouse belum dapat dilakukan secara maksimal karena lokasi tersebut lebih banyak difungsikan sebagai pusat kegiatan pelatihan.

Dengan demikian, teknologi yang diterapkan harus mempertimbangkan kebutuhan utama lokasi, termasuk kemudahan penggunaan dan proses pembelajaran bagi peserta pelatihan.

Belajar dari Negara Penghasil Teknologi Budidaya

Dalam diskusi tersebut, Dwi juga menceritakan perjalanan pembelajarannya hingga dapat mengenal teknologi budidaya dari luar negeri, khususnya Thailand dan Jepang.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan teknologi pertanian membutuhkan proses pembelajaran yang panjang. Pengetahuan tidak hanya diperoleh dari lembaga pendidikan formal, tetapi juga melalui interaksi dengan praktisi, pelaku usaha, serta para ahli yang datang untuk melihat langsung praktik budidaya.

Setelah pengembangan greenhouse berjalan, sejumlah pakar dari perguruan tinggi maupun pihak luar negeri mulai berkunjung untuk melihat perkembangan budidaya anggur yang dilakukan.

Bagi Dwi, kedatangan para pakar tersebut menjadi bagian dari proses pertukaran pengetahuan. Greenhouse yang awalnya dibangun sebagai bagian dari usaha pertanian kemudian berkembang menjadi ruang pertemuan antara praktik lapangan dan pengetahuan ilmiah.

Tantangan Pengembangan Varietas dan Ketergantungan Impor

Pembahasan bersama Ketua P4S Soko Jati Cinta Nusantara juga menyentuh persoalan yang lebih luas mengenai industri buah di Indonesia.

Dwi menyampaikan pandangannya mengenai tingginya kebutuhan buah impor di Indonesia. Dalam diskusi tersebut, anggur disebut sebagai salah satu komoditas buah yang memiliki posisi penting dalam perdagangan buah nasional.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya peluang pengembangan produksi anggur dalam negeri. Namun, pengembangan tersebut tidak cukup hanya dilakukan melalui peningkatan luas lahan. Diperlukan penguasaan teknologi budidaya, pemilihan varietas, pengelolaan tanaman, hingga sistem produksi yang mampu menghasilkan buah berkualitas dan kompetitif.

Salah satu tantangan yang turut dibahas adalah proses pendaftaran varietas baru di Indonesia yang dinilai tidak sederhana. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangan varietas dan inovasi tanaman anggur di dalam negeri.

Diskusi ini kemudian mengarah pada pentingnya pembelajaran mengenai varietas, teknik budidaya, serta adaptasi teknologi terhadap kondisi lokal.

Dari Tidak Memiliki Latar Belakang Pertanian hingga Mengembangkan Greenhouse

Hal menarik dari perjalanan Dwi Suppriyanto adalah latar belakangnya yang bukan berasal dari pendidikan pertanian.

Menurut penuturannya, perjalanan menuju dunia pertanian justru berawal dari pertemuannya dengan salah satu pihak di Pemerintah Kota Batu. Dari pertemuan tersebut muncul dorongan untuk mengembangkan usaha pertanian melalui greenhouse anggur.

Keputusan tersebut kemudian membawa Dwi masuk lebih jauh ke dalam dunia pertanian. Proses belajar dilakukan secara bertahap melalui praktik, konsultasi, serta interaksi dengan berbagai pihak.

Seiring berjalannya waktu, greenhouse yang dikembangkan mulai menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk akademisi dan praktisi. Bahkan, sejumlah pakar dari perguruan tinggi serta pihak dari Jepang dan Korea Selatan turut berkunjung.

Perjalanan tersebut menjadi gambaran bahwa pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang pertanian dapat berlangsung melalui proses pembelajaran berbasis praktik dan pengalaman lapangan.

Model Ekonomi Greenhouse: Satu Tanaman sebagai Unit Produksi

Dalam kunjungan tersebut, Dwi juga menjelaskan mengenai skala produksi greenhouse yang dikelolanya.

Satu greenhouse terdiri atas sekitar 25 tanaman anggur. Berdasarkan perhitungan pengembangan yang disampaikan dalam diskusi, investasi awal untuk satu tanaman berada pada kisaran Rp500 ribu. Dalam satu tahun, nilai ekonominya ditargetkan dapat berkembang hingga sekitar Rp2 juta per tanaman.

Angka tersebut menjadi gambaran awal mengenai potensi ekonomi budidaya anggur dalam sistem greenhouse. Namun, angka tersebut tetap perlu dilihat sebagai bagian dari model pengembangan dan bukan sebagai jaminan keuntungan, karena hasil usaha pertanian sangat dipengaruhi oleh biaya produksi, produktivitas tanaman, kualitas buah, harga pasar, serta keberhasilan pengelolaan tanaman.

Bagi P4S Soko Jati Cinta Nusantara, informasi tersebut menjadi bahan pembelajaran penting dalam melihat peluang diversifikasi usaha pertanian.

Greenhouse sebagai Model Investasi Pertanian Skala Pengembangan

Dari keseluruhan diskusi, model investasi yang dikembangkan Duta Pengangguran masih berada pada tahap pengembangan greenhouse di lahan.

Model tersebut menarik perhatian Ketua P4S Soko Jati Cinta Nusantara karena memberikan perspektif baru mengenai pengembangan usaha pertanian yang tidak hanya mengandalkan luasan lahan, tetapi juga mengandalkan intensifikasi teknologi, manajemen tanaman, dan peningkatan nilai ekonomi per satuan tanaman.

Pendekatan greenhouse juga memungkinkan kegiatan produksi, pelatihan, penelitian, dan demonstrasi teknologi dilakukan dalam satu lokasi.

Bagi P4S Soko Jati Cinta Nusantara, model tersebut dapat menjadi referensi dalam mengembangkan program pertanian yang lebih adaptif terhadap kebutuhan petani dan perkembangan teknologi.

Membangun Jejaring Antar-P4S melalui Pertukaran Pengetahuan

Kunjungan Ketua P4S Soko Jati Cinta Nusantara ke Duta Pengangguran Kota Malang pada akhirnya tidak hanya menjadi kunjungan kelembagaan, tetapi juga menjadi ruang pertukaran pengalaman antar-pelaku pertanian.

P4S pada dasarnya memiliki peran strategis dalam mempercepat proses transfer teknologi kepada masyarakat. Pengalaman Duta Pengangguran dalam mengembangkan budidaya anggur menunjukkan bahwa proses tersebut dapat dilakukan melalui pembelajaran langsung, praktik lapangan, pelatihan, serta keterbukaan terhadap pengetahuan dari berbagai sumber.

Sementara itu, P4S Soko Jati Cinta Nusantara membawa pengalaman pengembangan pertanian hortikultura, khususnya jeruk, serta jejaring kerja sama dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan pertanian.

Pertukaran pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk membangun ekosistem pembelajaran antar-P4S di Jawa Timur.

Mencari Model Pertanian yang Produktif dan Bernilai Ekonomi

Kunjungan tersebut juga memperkuat gagasan bahwa pengembangan pertanian modern tidak cukup hanya berbicara mengenai teknologi. Teknologi harus dapat diterjemahkan menjadi sistem produksi yang memiliki nilai ekonomi dan dapat dipahami oleh petani.

Pengalaman Duta Pengangguran memperlihatkan bagaimana sebuah greenhouse dapat berkembang dari tempat produksi menjadi tempat pembelajaran, demonstrasi teknologi, dan interaksi antara petani dengan akademisi serta praktisi.

Bagi P4S Soko Jati Cinta Nusantara, pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran untuk melihat kemungkinan pengembangan komoditas alternatif di masa depan.

Diversifikasi menjadi semakin penting ketika petani menghadapi berbagai tantangan pada komoditas utama. Dengan mempelajari model budidaya anggur, greenhouse, dan sistem produksi berbasis teknologi, P4S dapat memperluas perspektif mengenai pilihan usaha pertanian yang memiliki prospek ekonomi.

Penutup

Kunjungan Ketua P4S Soko Jati Cinta Nusantara ke Duta Pengangguran Kota Malang menunjukkan pentingnya membangun jejaring pembelajaran antar-pelaku pertanian. Pengalaman Dwi Suppriyanto dalam mengembangkan budidaya anggur sejak 2017 hingga mengenal teknologi budidaya dari Thailand dan Jepang sejak 2023 memberikan gambaran mengenai panjangnya proses pembelajaran dalam membangun usaha pertanian berbasis teknologi.

Greenhouse tidak hanya dipandang sebagai fasilitas produksi, tetapi juga sebagai ruang pendidikan, demonstrasi, pengembangan teknologi, dan penguatan kapasitas petani. Sementara itu, penataan cabang tanaman, pemangkasan, pengelolaan produksi, serta perencanaan hasil menjadi bagian dari sistem budidaya yang terus dikembangkan.

Bagi P4S Soko Jati Cinta Nusantara, kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring dan mencari berbagai model pertanian yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pertukaran pengalaman antar-P4S diharapkan dapat mempercepat proses pembelajaran, memperluas akses terhadap teknologi, dan pada akhirnya mendorong lahirnya model usaha tani yang produktif, adaptif, serta memiliki nilai ekonomi bagi petani.

Leave a Comment

Lokasi P4S
Translate »