Dari Riset BRIN hingga Pekarangan Swadaya: Serikat Tani LSN Dorong Model Pertanian Jember Berbasis Low Cost–High Impact

Sinergi Pemerintah, Serikat Tani, BRIN, dan P4S Diarahkan Menjadi Program Percontohan yang Terukur dari Hulu hingga Hilir

JEMBER, 11 Agustus 2026 – Penguatan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan di Kabupaten Jember mulai diarahkan pada pendekatan yang lebih terintegrasi melalui kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Jember, Serikat Tani Laskar Sholawat Nusantara (ST LSN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), perguruan tinggi, P4S, kementerian, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Arah tersebut mengemuka dalam pembahasan bersama yang menempatkan riset, teknologi, efisiensi anggaran, penguatan kelembagaan, serta pilot project sebagai instrumen utama untuk mempercepat penyelesaian persoalan pertanian di Kabupaten Jember.

Forum tersebut sekaligus mempertegas gagasan bahwa pembangunan pertanian tidak harus selalu dimulai dari program baru dengan kebutuhan anggaran besar. Sebaliknya, program yang telah berjalan dapat diintegrasikan, diperkuat dengan riset dan teknologi, kemudian diuji dalam skala terbatas sebelum dikembangkan lebih luas.

Konsep tersebut sejalan dengan pendekatan low cost–high impact, yaitu mengembangkan solusi dengan biaya penelitian dan implementasi yang relatif efisien tetapi menghasilkan dampak yang signifikan bagi produktivitas, efisiensi usaha tani, pendapatan petani, serta keberlanjutan lingkungan.

Bupati Jember: Jangan Membuat Program dari Nol, Integrasikan Program yang Sudah Ada

Dalam arahannya, Bupati Jember menekankan pentingnya membangun program melalui pendekatan yang realistis dan sesuai dengan kemampuan fiskal daerah.

Menurut arahan tersebut, pemerintah daerah tidak perlu selalu menciptakan program yang benar-benar baru dari awal. Program prioritas pemerintah pusat maupun kementerian yang sudah tersedia dapat dijadikan sebagai wasilah atau instrumen untuk mempercepat pembangunan pertanian Jember dengan menyesuaikannya terhadap kebutuhan lokal.

Pendekatan tersebut dipandang penting karena ruang fiskal daerah memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, pembiayaan pembangunan pertanian perlu diarahkan agar tidak hanya bertumpu pada APBD, tetapi juga mampu menarik dukungan program dan pembiayaan dari pemerintah pusat, kementerian, lembaga penelitian, perguruan tinggi, serta mitra lainnya.

Bupati juga memberikan penekanan agar program tidak langsung dipaksakan diterapkan pada seluruh wilayah Kabupaten Jember. Dari ratusan desa yang ada, pendekatan awal dapat dilakukan melalui satu atau dua desa percontohan.

Model tersebut diharapkan memberikan ruang bagi pemerintah dan mitra untuk menguji teknologi, menghitung biaya, mengukur hasil, melakukan evaluasi, serta memperbaiki kelemahan sebelum program diperluas.

Arahan tersebut menjadi penting karena keberhasilan suatu program bukan hanya ditentukan oleh besarnya cakupan wilayah, tetapi oleh kemampuan program tersebut menghasilkan model yang benar-benar berhasil dan dapat direplikasi.

Program Pertanian Harus Terintegrasi dari Hulu hingga Hilir

Bupati juga mendorong agar berbagai program yang selama ini berjalan pada masing-masing perangkat daerah tidak berdiri sendiri.

Pengalaman integrasi program pemerintah pada sektor lain, seperti konsep pelayanan terpadu, menjadi inspirasi agar pendekatan serupa dapat diterapkan pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.

Dalam konteks pertanian, integrasi tersebut dapat dimulai dari penyediaan input, produksi, mekanisasi, pengelolaan lahan, pendampingan petani, pengolahan hasil, pemasaran, hingga penyerapan produk.

Dengan demikian, Serikat Tani tidak hanya berperan sebagai organisasi yang menghimpun petani, tetapi dapat menjadi salah satu simpul yang menghubungkan program pemerintah dengan kebutuhan masyarakat di tingkat lapangan.

Bupati juga membuka peluang agar kolaborasi tersebut dapat dikembangkan bersama lembaga strategis seperti kementerian dan Bulog, terutama dalam memperkuat hubungan antara produksi petani dan pasar.

Serikat Tani LSN Memiliki Jaringan hingga Tingkat Kecamatan dan Desa

Dalam forum tersebut dijelaskan bahwa Serikat Tani Laskar Sholawat Nusantara memiliki jaringan organisasi yang terus berkembang. Struktur tersebut mencakup kepengurusan pusat, daerah, kecamatan, hingga proyeksi pengembangan di tingkat desa.

Jaringan tersebut menjadi salah satu modal sosial penting dalam membangun sistem pendataan pertanian.

Dengan adanya struktur di tingkat kecamatan dan desa, persoalan yang dihadapi petani dapat dikumpulkan secara lebih sistematis. Data lapangan kemudian dapat diklasifikasikan berdasarkan komoditas, wilayah, jenis persoalan, kebutuhan teknologi, kebutuhan sarana produksi, hingga peluang pengembangan usaha.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengubah pola pembangunan pertanian dari pendekatan yang hanya berbasis asumsi menjadi pendekatan yang berbasis data dan hasil identifikasi lapangan.

Ketua P4S: Identifikasi Masalah Harus Menjadi Langkah Pertama

Ketua P4S Soko Jati Cinta Nusantara, Rhezky Mahardianto, menekankan bahwa salah satu persoalan mendasar dalam pertanian adalah lemahnya proses identifikasi masalah.

Menurutnya, petani sering kali langsung memberikan perlakuan kepada tanaman ketika melihat gejala tertentu, tanpa terlebih dahulu mengetahui penyebab persoalan yang terjadi pada tanah maupun tanaman.

Ia memberikan analogi bahwa pertanian membutuhkan pendekatan seperti dunia kesehatan. Ketika seseorang sakit, langkah pertama bukan langsung memberikan berbagai obat, tetapi melakukan diagnosis untuk mengetahui penyebab penyakit.

Prinsip yang sama menurutnya perlu diterapkan dalam pertanian.

Tanaman yang pertumbuhannya terganggu tidak selalu berarti kekurangan pupuk. Persoalan dapat berasal dari kondisi tanah, pH, salinitas, mikroorganisme, struktur tanah, ketersediaan air, kualitas benih, faktor genetik, maupun interaksi antara genotipe dan lingkungan.

Karena itu, sebelum menentukan teknologi atau input yang akan digunakan, perlu dilakukan identifikasi dan analisis terlebih dahulu.

Studi Kasus Paseban: Ketika Rumput Justru Membantu Tanaman Padi

Sebagai contoh, Ketua P4S menyampaikan pengalaman diskusi bersama Prof. Sigit dari Universitas Jember mengenai kondisi pertanian di wilayah Paseban.

Berdasarkan pembahasan tersebut, salah satu persoalan yang ditemukan berkaitan dengan tingginya kadar natrium pada tanah yang dipengaruhi oleh kondisi wilayah yang berdekatan dengan kawasan pesisir.

Menariknya, terdapat jenis rumput tertentu yang pada kondisi tersebut justru dapat memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman padi.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tanaman yang selama ini secara umum dipandang sebagai gulma tidak selalu dapat diperlakukan dengan pendekatan yang sama pada setiap kondisi agroekosistem.

Kasus tersebut memperlihatkan pentingnya penelitian berbasis lokasi.

Apa yang berhasil pada satu wilayah belum tentu memberikan hasil yang sama apabila langsung dipindahkan ke wilayah lain.

Karena itu, kerja sama dengan BRIN dan perguruan tinggi diarahkan untuk membantu melakukan analisis tanah, mengidentifikasi faktor pembatas, serta menentukan intervensi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah.

Studi Kasus Petani Milenial: Tanah Tidak Kekurangan Hara, tetapi Tanaman Tetap Bermasalah

Studi kasus lain yang disampaikan berkaitan dengan budidaya jeruk petani milenial di Kabupaten Malang.

Dalam kasus tersebut, hasil analisis tanah menunjukkan bahwa unsur hara makro dan mikro yang tersedia tidak menunjukkan kekurangan yang menjadi penyebab utama.

Namun, tanaman tetap menunjukkan persoalan pertumbuhan.

Kondisi tersebut kemudian mengarahkan penelitian pada aspek biologis tanah, termasuk keberadaan mikroorganisme tertentu.

Pendekatan yang kemudian dilakukan adalah memberikan mikroorganisme yang dibutuhkan tanaman melalui hasil pengembangan bersama lembaga penelitian.

Studi tersebut menjadi pembelajaran penting bagi pengembangan pertanian Jember.

Artinya, jika tanaman mengalami masalah, solusi tidak boleh otomatis berupa penambahan pupuk.

Justru harus diketahui terlebih dahulu apa yang sebenarnya kurang atau menjadi faktor pembatas.

Menuju Kerja Sama BRIN dengan Pemerintah Kabupaten Jember

Atas dasar kebutuhan tersebut, Serikat Tani LSN mendorong agar kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Jember dan BRIN segera memiliki kerangka yang jelas.

Kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seminar atau pelatihan, tetapi menghasilkan penelitian yang memiliki lokasi, objek, indikator, metode, target, dan ukuran keberhasilan yang jelas.

Salah satu prinsip yang didorong adalah low cost–high impact research.

Artinya, penelitian tidak harus selalu dimulai dengan kebutuhan biaya yang besar. Penelitian dapat dimulai dari persoalan yang spesifik, lokasi yang terbatas, serta intervensi yang terukur.

Apabila hasilnya menunjukkan dampak signifikan, model tersebut dapat diperluas.

Pendekatan ini sekaligus dapat menjadi strategi untuk menjawab arahan pemerintah daerah agar program pembangunan pertanian tidak membebani APBD.

Teknologi Pertanian Harus Terjangkau dan Bisa Dipakai Petani

Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Ratno, menekankan pentingnya teknologi dalam pengembangan sektor pertanian Jember.

Menurutnya, teknologi harus dipelajari dan diadaptasi sesuai kebutuhan lokal.

Ia mencontohkan sistem pertanian di negara maju yang mampu menjaga produksi sepanjang tahun. Prinsip tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran untuk mengembangkan sistem pertanian Jember agar lebih terukur dan produktif.

Namun, teknologi yang dikembangkan tidak harus selalu berupa teknologi mahal.

Justru teknologi yang sederhana, terjangkau, mudah dirawat, dan dapat digunakan langsung oleh petani akan lebih mudah diadopsi.

Karena itu, konsep teknologi tepat guna menjadi bagian penting dari kolaborasi antara pemerintah, BRIN, perguruan tinggi, P4S, dan petani.

IoT dan Digitalisasi sebagai Pendukung Data Pertanian

Dalam pembahasan teknologi, muncul pula gagasan pengembangan Internet of Things (IoT) untuk mendukung kegiatan pertanian.

Sistem tersebut dapat digunakan untuk memantau kelembapan tanah, suhu, kondisi air, hingga kebutuhan irigasi.

Untuk skala pekarangan, teknologi dapat dikembangkan menjadi sistem otomatisasi sederhana sehingga masyarakat tidak harus selalu melakukan penyiraman secara manual.

Sementara dalam skala kawasan, data dari sensor dapat dikembangkan menjadi basis data pertanian yang dapat digunakan pemerintah untuk melakukan pemantauan.

Dengan sistem tersebut, teknologi bukan hanya digunakan untuk mengotomatisasi kegiatan budidaya, tetapi juga untuk membangun sistem informasi pertanian yang lebih akurat.

Pabrik Pupuk Ajung Didorong Menjadi Bagian dari Ekosistem Pertanian Jember

Selain kerja sama riset dengan BRIN, salah satu agenda yang mendapatkan perhatian adalah optimalisasi pengelolaan pabrik pupuk di Ajung.

Pabrik tersebut dipandang perlu dikaitkan dengan kebutuhan nyata petani Jember.

Pengembangan pupuk tidak semestinya hanya berhenti pada produksi barang, tetapi perlu dihubungkan dengan hasil analisis tanah, kebutuhan komoditas, karakteristik wilayah, serta hasil penelitian.

Dengan demikian, pupuk yang dikembangkan dapat diarahkan menjadi bagian dari sistem pertanian berbasis data.

Konsep tersebut juga sejalan dengan pendekatan low cost–high impact karena tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan produk pupuk, melainkan menghasilkan input pertanian yang tepat guna, efisien, dan relevan dengan kondisi tanah Jember.

Pekarangan Swadaya: Mengubah Lahan Kecil Menjadi Sumber Pangan

Poin strategis lainnya adalah pengembangan Pilot Project Pekarangan Swadaya.

Gagasan tersebut diarahkan untuk memanfaatkan ruang kosong di sekitar rumah sebagai bagian dari sistem ketahanan pangan keluarga.

Lahan pekarangan dapat digunakan untuk berbagai komoditas hortikultura seperti cabai, bawang merah, sayuran, serta tanaman pangan lainnya sesuai dengan karakteristik wilayah.

Pengembangan pekarangan juga dapat dikombinasikan dengan konsep zero waste, pemanfaatan bahan organik, pengelolaan air, serta teknologi otomatisasi sederhana.

Dengan demikian, pekarangan tidak hanya berfungsi sebagai ruang tambahan, tetapi dapat menjadi unit produksi pangan skala rumah tangga.

Pilot Project Tidak Harus Besar, tetapi Harus Berhasil

Dalam forum tersebut muncul kesepahaman bahwa pilot project sebaiknya tidak langsung dilakukan dalam skala luas.

Model percontohan dapat dimulai dari satu atau dua lokasi yang memiliki kesiapan lahan, sumber daya manusia, pendamping, dan kelembagaan.

Lokasi yang berhasil kemudian dapat menjadi tempat pembelajaran bagi kelompok lain.

Prinsipnya adalah kecil dalam tahap awal, tetapi terukur dan berdampak besar.

Dengan pendekatan tersebut, pemerintah dapat mengetahui berapa biaya yang diperlukan, teknologi apa yang efektif, berapa peningkatan produksi yang dihasilkan, berapa penghematan biaya yang diperoleh, serta bagaimana tingkat penerimaan masyarakat.

Potensi 10 Hektare sebagai Lokasi Pengembangan dan Pengujian

Dalam pembahasan juga disampaikan adanya aset lahan sekitar 10 hektare yang berada di wilayah pertanian jeruk.

Lahan tersebut berpotensi digunakan sebagai lokasi pengembangan dan pengujian teknologi.

Keberadaan lahan dalam satu kawasan menjadi keuntungan tersendiri karena penelitian dapat dilakukan secara lebih terkontrol.

Lahan tersebut dapat dikembangkan sebagai lokasi demonstrasi yang menghubungkan penelitian tanah, pemupukan, pengelolaan bahan organik, teknologi pertanian, hingga pengembangan model kelembagaan petani.

Dengan demikian, penelitian tidak hanya menghasilkan data akademik, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran bagi petani dan perangkat daerah.

Peternakan dan Perikanan Juga Dapat Masuk dalam Ekosistem Riset

Kolaborasi dengan BRIN tidak harus dibatasi pada tanaman.

Forum juga membuka kemungkinan agar penelitian dikembangkan pada sektor peternakan dan perikanan.

Pada sektor peternakan, pemerintah daerah telah menyampaikan gagasan penguatan kualitas genetik ternak melalui persilangan dan penyediaan pejantan unggul.

Sementara pada sektor perikanan, konsep Recirculating Aquaculture System (RAS) dipandang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai model perikanan modern.

Sistem RAS dapat dikombinasikan dengan teknologi sensor untuk memantau parameter air, termasuk pH, total dissolved solids (TDS), suhu, oksigen, serta indikator lain yang relevan.

Teknologi tersebut dapat digunakan untuk mendukung efisiensi pengelolaan kolam sekaligus mengurangi risiko gangguan kualitas air.

P4S Menjadi Ruang Uji Teknologi Sebelum Diperluas

Keberadaan P4S Soko Jati Cinta Nusantara juga dinilai strategis karena memiliki fungsi sebagai ruang pembelajaran dan penerapan teknologi.

P4S dapat menjadi tempat untuk menguji teknologi dalam skala terbatas sebelum teknologi tersebut diperkenalkan secara lebih luas kepada petani.

Model tersebut memungkinkan terjadinya siklus:

masalah → identifikasi → penelitian → uji teknologi → evaluasi → pelatihan → penerapan → pengukuran dampak → replikasi.

Siklus tersebut dapat menjadi pola kerja kolaborasi antara BRIN, Pemerintah Kabupaten Jember, perguruan tinggi, P4S, dan petani.

Dari Data Lapangan Menuju Kebijakan

Salah satu gagasan penting dalam forum adalah membangun sistem pendataan pertanian yang lebih kuat.

Serikat Tani LSN dengan jaringan organisasi di tingkat kecamatan dan desa memiliki potensi untuk menjadi salah satu sumber informasi lapangan.

Data tersebut dapat dikumpulkan secara sistematis sehingga pemerintah dapat mengetahui persoalan pertanian secara lebih cepat.

Data tidak hanya berupa jumlah petani atau luas lahan, tetapi juga dapat mencakup komoditas, kondisi tanah, permasalahan pupuk, serangan organisme pengganggu tanaman, kebutuhan alsintan, produktivitas, harga, pemasaran, serta kebutuhan teknologi.

Apabila data tersebut terhubung dengan sistem digital, maka kebijakan pemerintah dapat disusun berdasarkan informasi lapangan yang lebih aktual.

Program Tidak Berhenti pada Produksi

Forum juga menekankan pentingnya pembangunan pertanian dari hulu hingga hilir.

Permasalahan pertanian tidak berhenti ketika petani berhasil menghasilkan produk.

Petani masih menghadapi persoalan pascapanen, penyimpanan, distribusi, harga, pengolahan, serta akses pasar.

Karena itu, program yang dikembangkan harus memiliki keterhubungan antara produksi dan pasar.

Dalam konteks tersebut, komunikasi dengan Bulog maupun lembaga lain yang berkaitan dengan penyerapan hasil menjadi bagian penting dari strategi hilirisasi.

Low Cost–High Impact Menjadi Prinsip Pengembangan

Dari keseluruhan pembahasan, konsep low cost–high impact menjadi salah satu prinsip utama yang dapat menyatukan berbagai program.

Prinsip tersebut berarti bahwa setiap program harus mampu menjawab tiga pertanyaan utama:

Berapa biaya yang diperlukan?

Seberapa besar dampak yang dihasilkan?

Apakah model tersebut dapat direplikasi?

Pertanyaan tersebut menjadi penting agar inovasi tidak hanya menarik secara teknologi, tetapi juga layak secara ekonomi.

Sebuah teknologi dapat disebut berhasil apabila petani mampu menggunakannya, biaya penerapannya masuk akal, produktivitas atau efisiensi meningkat, dan manfaat ekonominya dapat dirasakan.

Jember Memiliki Modal Sosial untuk Menjadi Lokasi Demonstrasi

Kabupaten Jember memiliki sejumlah modal yang dapat mendukung pengembangan model tersebut.

Selain potensi pertanian yang besar, Jember memiliki jaringan petani, P4S, perguruan tinggi, lembaga penelitian, perangkat daerah, serta organisasi masyarakat yang dapat dikonsolidasikan.

Keberadaan jaringan Serikat Tani di berbagai kecamatan juga memberikan ruang untuk melakukan pemetaan persoalan dari bawah.

Dengan demikian, Jember tidak harus menunggu model dari daerah lain.

Sebaliknya, Jember dapat membangun model penelitian berdasarkan persoalan dan karakteristik lahannya sendiri.

Dari Jember untuk Jember: Riset Berbasis Karakteristik Lokal

Salah satu pesan terpenting dari forum adalah bahwa teknologi pertanian tidak dapat diterapkan secara seragam tanpa memperhatikan karakteristik wilayah.

Tanah di wilayah pesisir dapat memiliki persoalan berbeda dengan tanah di kawasan dataran tinggi.

Komoditas jeruk juga memiliki kebutuhan berbeda dengan padi, cabai, sayuran, maupun komoditas lainnya.

Karena itu, riset bersama BRIN dan perguruan tinggi diharapkan dapat menjadikan Jember sebagai laboratorium lapangan untuk mengidentifikasi persoalan dan mengembangkan solusi yang benar-benar sesuai dengan kondisi lokal.

Pendekatan ini sekaligus menghindarkan petani dari kebiasaan menerapkan teknologi hanya karena berhasil di tempat lain.

Tiga Agenda Prioritas untuk Ditindaklanjuti

Dari berbagai gagasan yang berkembang, terdapat tiga agenda yang dinilai paling strategis untuk segera dikonsolidasikan.

Pertama, penguatan kerja sama BRIN dan Pemerintah Kabupaten Jember sebagai dasar pengembangan riset dan inovasi berbasis persoalan nyata di lapangan.

Kedua, optimalisasi Pabrik Pupuk Ajung agar dapat mendukung kebutuhan input pertanian Jember dan menjadi bagian dari ekosistem hilirisasi hasil riset.

Ketiga, pengembangan Pilot Project Pekarangan Swadaya sebagai model pertanian skala rumah tangga yang mengintegrasikan ketahanan pangan, teknologi sederhana, efisiensi biaya, dan pemanfaatan sumber daya lokal.

Ketiga agenda tersebut dapat berjalan dalam satu kerangka besar pembangunan pertanian Jember.

Menuju Jember Baru, Jember Maju

Kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Jember, Serikat Tani LSN, BRIN, perguruan tinggi, P4S, kementerian, dan berbagai mitra strategis diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi.

Tahap berikutnya adalah menerjemahkan gagasan menjadi peta jalan, menentukan lokasi percontohan, menyusun indikator keberhasilan, menghitung kebutuhan biaya, serta menetapkan mekanisme evaluasi.

Pendekatan low cost–high impact dapat menjadi karakter utama program tersebut: memulai dari persoalan nyata, menggunakan riset yang tepat, memanfaatkan teknologi yang terjangkau, menguji dalam skala terbatas, mengukur dampak, kemudian memperluas model yang terbukti berhasil.

Jika pola tersebut dapat dijalankan secara konsisten, maka pembangunan pertanian Jember tidak hanya akan menghasilkan program, tetapi juga menghasilkan model pembangunan pertanian berbasis pengetahuan yang dapat dibuktikan, diukur, dan direplikasi.

Pada akhirnya, seluruh agenda tersebut diarahkan untuk mendukung visi pembangunan Kabupaten Jember melalui semangat Jember Baru, Jember Maju—sebuah pembangunan yang tidak hanya mengejar produksi, tetapi juga memperkuat petani, meningkatkan efisiensi, mengembangkan teknologi, membangun industri hulu-hilir, serta memastikan setiap inovasi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pertanian Jember dengan demikian tidak hanya diposisikan sebagai sektor produksi, tetapi sebagai ekosistem pembangunan yang mempertemukan petani, riset, teknologi, pemerintah, industri, dan pasar dalam satu gerakan bersama.

Leave a Comment

Lokasi P4S
Translate »