


Jember, 8 Juni 2026 – Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Soko Jati Cinta Nusantara, Rhezky Mahardianto, melakukan kunjungan silaturahmi dan konsultasi ilmiah dengan Dr. Suhartiningsih Dwi Nurchayanti, S.P., M.Sc. di Fakultas Pertanian, Universitas Jember. Pertemuan tersebut menjadi langkah awal penjajakan kolaborasi akademik dalam upaya mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi petani jeruk di Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember.
Pertemuan ini berawal dari diskusi antara Ketua P4S dengan Prof. Wiwit, seorang peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengenai kondisi terkini pertanian jeruk di Umbulsari. Dalam konsultasi tersebut, Rhezky menyampaikan keresahan petani terkait kualitas buah jeruk pascapanen yang mengalami penurunan signifikan. Jika sebelumnya buah jeruk mampu bertahan segar lebih dari dua minggu setelah dipanen, kini daya simpannya hanya berkisar satu minggu. Bahkan pada beberapa kasus, kesegaran dan cita rasa buah mulai menurun hanya dalam waktu satu hari setelah panen.
Mendengar permasalahan tersebut, Prof. Wiwit merekomendasikan agar P4S menjalin komunikasi dengan Dr. Suhartiningsih Dwi Nurchayanti yang dikenal sebagai pakar fitopatologi dari Universitas Jember. Menurutnya, persoalan kualitas dan daya simpan buah tidak hanya berkaitan dengan aspek budidaya, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kesehatan tanaman, kondisi tanah, serta berbagai faktor penyakit yang memerlukan kajian lebih mendalam.
Berbekal rekomendasi tersebut, pada Senin, 8 Juni 2026, Ketua P4S Soko Jati Cinta Nusantara melakukan kunjungan langsung untuk bersilaturahmi sekaligus berdiskusi dengan Dr. Suhartiningsih. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh suasana akademik tersebut, Rhezky memperkenalkan profil P4S serta menjelaskan berbagai tantangan yang saat ini dihadapi petani jeruk di Umbulsari.
Salah satu fokus utama pembahasan adalah upaya meningkatkan kualitas buah jeruk pascapanen agar memiliki daya simpan yang lebih panjang. Ketua P4S menyampaikan harapan para petani agar buah jeruk mampu bertahan setidaknya hingga tiga minggu setelah panen tanpa mengalami penurunan kualitas yang signifikan. Menurutnya, peningkatan daya simpan menjadi faktor penting untuk memperluas akses pasar serta meningkatkan daya saing komoditas jeruk asal Jember.
Dalam kesempatan tersebut, Rhezky juga menyampaikan perkembangan komunikasi yang sedang dilakukan dengan Poly Group, salah satu perusahaan besar dari Tiongkok yang berencana menjajaki investasi sektor pertanian di Kabupaten Jember. Program tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan pertanian modern, peningkatan produktivitas, transfer teknologi, serta penguatan kapasitas petani melalui kolaborasi antara dunia usaha, petani, dan perguruan tinggi.
Sebagai bentuk komitmen terhadap penguatan aspek ilmiah dalam program tersebut, Ketua P4S mengundang Dr. Suhartiningsih untuk bergabung sebagai bagian dari tim pelaksana lapangan yang akan mendampingi berbagai kegiatan penelitian, pengembangan teknologi, dan pendampingan petani. Kehadiran akademisi diharapkan mampu memastikan bahwa setiap program yang dijalankan memiliki dasar ilmiah yang kuat dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pertemuan yang berlangsung lebih dari satu jam tersebut disambut dengan antusias oleh Dr. Suhartiningsih. Dalam diskusi, beliau memberikan berbagai pandangan dan analisis berdasarkan kepakarannya di bidang fitopatologi, khususnya terkait hubungan antara kesehatan tanaman, kondisi lingkungan tumbuh, serta kualitas hasil panen. Menurutnya, berbagai persoalan yang muncul pada komoditas jeruk perlu dikaji secara komprehensif agar solusi yang dihasilkan benar-benar tepat sasaran dan berkelanjutan.
Di akhir pertemuan, Dr. Suhartiningsih menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk terlibat dalam pengembangan program pertanian tersebut. Beliau menyambut baik peluang kolaborasi antara P4S, petani, perguruan tinggi, dan mitra investasi, serta menyampaikan bahwa dirinya akan terlebih dahulu berkoordinasi dan menyampaikan rencana keterlibatan tersebut kepada pimpinan Fakultas Pertanian Universitas Jember.
Silaturahmi ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun sinergi antara praktisi pertanian, peneliti, dan akademisi. Melalui kolaborasi yang erat, diharapkan berbagai persoalan yang selama ini dihadapi petani jeruk di Umbulsari dapat ditemukan solusinya secara ilmiah, sehingga mampu meningkatkan kualitas produk, memperkuat daya saing komoditas jeruk Jember, dan mendorong terwujudnya pertanian yang lebih maju dan berkelanjutan.
