


Jember, 12 Juni 2026 – Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Soko Jati Cinta Nusantara menerima kunjungan dua akademisi terkemuka, yaitu Prof. Dr. Ruslin Hadanu, S.Pd., M.Si., Guru Besar Kimia Organik dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sembilan Belas November Kolaka, serta Dr. Suhartiningsih Dwi Nurchayanti, S.P., M.Sc., dosen dan pakar Fitopatologi dari Fakultas Pertanian, Universitas Jember.
Kunjungan tersebut merupakan kunjungan balasan setelah sebelumnya Ketua P4S Soko Jati Cinta Nusantara, Rhezky Mahardianto, melakukan silaturahmi akademik dengan Dr. Suhartiningsih di Fakultas Pertanian Universitas Jember.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Meskipun dikemas dalam obrolan santai, diskusi yang berkembang sarat dengan pembahasan ilmiah mengenai kondisi pertanian jeruk di Kabupaten Jember, khususnya di wilayah Kecamatan Umbulsari dan sekitarnya.
Diskusi diawali dengan pembahasan mengenai sejarah perkembangan pertanian di Kecamatan Umbulsari. Pada masa lalu, sebagian besar masyarakat menggantungkan perekonomiannya pada budidaya tebu yang memasok kebutuhan pabrik gula di kawasan Jember. Namun, sejak komoditas jeruk menunjukkan prospek ekonomi yang lebih menguntungkan, banyak petani secara bertahap melakukan konversi lahan dari tebu menjadi kebun jeruk. Transformasi tersebut menjadikan Umbulsari dikenal sebagai salah satu sentra jeruk terbesar di Kabupaten Jember. Meski demikian, berbagai persoalan mulai muncul dalam beberapa tahun terakhir, seperti meningkatnya biaya budidaya, tingginya intensitas serangan penyakit tanaman, serta menurunnya kesehatan tanah akibat pola pengelolaan lahan yang kurang berkelanjutan.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah fenomena beralihnya sebagian petani jeruk di Desa Sukoreno dan wilayah sekitar menjadi petani tebu. Menurut para peserta diskusi, kondisi tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi petani jeruk, mulai dari tingginya biaya produksi, serangan penyakit tanaman, hingga menurunnya kualitas lahan pertanian.
Pembahasan kemudian mengarah pada budaya budidaya yang berkembang di kalangan petani, terutama penggunaan pupuk kimia dan pestisida secara berlebihan. Praktik tersebut dinilai berkontribusi terhadap menurunnya kesehatan tanah akibat akumulasi residu bahan kimia dalam jangka panjang. Akibatnya, kualitas fisik, kimia, dan biologi tanah mengalami penurunan yang berdampak langsung terhadap produktivitas tanaman jeruk.
Dalam forum tersebut, Prof. Ruslin Hadanu memberikan pandangan dari aspek kimia tanah dan pengelolaan bahan organik, sementara Dr. Suhartiningsih Dwi Nurchayanti menyoroti berbagai penyakit tanaman yang berpotensi berkembang pada lahan dengan kondisi kesehatan tanah yang menurun.
Momentum pertemuan juga dimanfaatkan untuk membahas rencana P4S Soko Jati Cinta Nusantara dalam memproduksi pupuk organik. Beberapa sampel pupuk yang telah dikembangkan dipresentasikan kepada kedua pakar untuk memperoleh masukan ilmiah terkait kualitas bahan, proses fermentasi, kandungan unsur hara, serta potensi penerapannya pada budidaya jeruk.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke Demonstration Plot (Demplot) tanaman jeruk milik Ketua P4S, Rhezky Mahardianto. Dalam kunjungan tersebut dijelaskan bahwa biaya pemeliharaan tanaman jeruk saat ini mencapai sekitar Rp300.000 per pohon per tahun, dengan rata-rata hasil produksi sekitar 100 kilogram buah per pohon per tahun.
Data tersebut menjadi perhatian para akademisi karena dinilai menunjukkan tingkat efisiensi usaha tani yang masih perlu ditingkatkan. Sebagai perbandingan, pada beberapa sentra jeruk di luar Pulau Jawa, biaya pemeliharaan tanaman hanya berkisar Rp100.000 per pohon per tahun, namun mampu menghasilkan produksi hingga 200 kilogram buah per pohon per tahun.
Melalui kunjungan ini, P4S Soko Jati Cinta Nusantara bersama akademisi dari Universitas Sembilan Belas November Kolaka dan Universitas Jember berharap dapat membangun kolaborasi penelitian yang lebih intensif untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi petani jeruk, sekaligus mendorong terwujudnya sistem pertanian yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan di Kabupaten Jember.
