


Jember, 24 Mei 2026 – Ketua P4S Soko Jati Cinta Nusantara, Rhezky Mahardianto, menghadiri kegiatan silaturahmi dan diskusi Perhimpunan Hortikultura Indonesia (PERHORTI) Komisariat Daerah Jawa Timur yang diselenggarakan di Rumah Pertani Semangka milik Iqbal, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh jajaran pengurus PERHORTI Jawa Timur, akademisi, petani, pelaku usaha hortikultura, eksportir, serta berbagai pemangku kepentingan sektor pertanian dari berbagai daerah di Jawa Timur. Hadir pula Prof. Rondi, yang turut memberikan pandangan mengenai pentingnya sinergi antara akademisi dan praktisi pertanian.
Pertemuan ini menjadi forum strategis untuk membahas berbagai persoalan hortikultura yang berkembang di lapangan sekaligus merumuskan langkah kolaboratif dalam memperkuat sektor pertanian hortikultura di Jawa Timur.
PERHORTI Sebagai Wadah Penyelesaian Permasalahan Hortikultura
Dalam sambutannya, Prof. Dawam menyampaikan bahwa PERHORTI merupakan wadah yang mempertemukan pegiat hortikultura, petani, akademisi, pelaku usaha, hingga pemerintah dalam upaya menyelesaikan berbagai persoalan pertanian.
Menurutnya, keberadaan PERHORTI harus mampu menjadi bank permasalahan pertanian hortikultura yang menghimpun berbagai persoalan di lapangan untuk kemudian dicarikan solusi melalui pendekatan ilmiah, teknologi, dan kebijakan yang tepat.
“Petani, pebisnis, akademisi, dan pemerintah selalu membutuhkan masukan dari kondisi nyata di lapangan. Permasalahan-permasalahan tersebut harus menjadi agenda bersama yang segera diselesaikan,” ujarnya.
Harapan Fakultas Pertanian UNEJ terhadap PERHORTI
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Prof. Rondi. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan apresiasi atas undangan yang diberikan kepada Fakultas Pertanian Universitas Jember untuk bergabung dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan PERHORTI.
Beliau berharap PERHORTI terus berkembang menjadi organisasi profesi yang mampu menjawab berbagai tantangan pertanian modern sekaligus menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai profesi dan keahlian di bidang hortikultura.
“Melalui PERHORTI, kita dapat mengetahui profesionalitas dan kompetensi para pelaku hortikultura sehingga memudahkan terjalinnya kerja sama yang lebih luas dalam pembangunan pertanian,” ungkapnya.
Fokus Penguatan Pertanian Organik
Sementara itu, Ketua PERHORTI Jawa Timur, Prof. Nurul, menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memimpin organisasi tersebut.
Dalam laporannya, beliau memaparkan berbagai program dan kegiatan yang telah dijalankan PERHORTI Jawa Timur selama masa kepengurusan. Salah satu fokus utama yang saat ini terus didorong adalah peningkatan kesadaran penggunaan pupuk organik guna memperbaiki kualitas tanah, meningkatkan produktivitas, serta mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan.
Petani Semangka Keluhkan Penurunan Produksi
Memasuki sesi diskusi, tuan rumah Iqbal, petani semangka asal Gumukmas, menyampaikan keluhan mengenai penurunan performa produksi semangka yang dialaminya.
Ia menjelaskan bahwa bobot buah semangka yang sebelumnya mampu mencapai rata-rata 10 kilogram per buah kini hanya mencapai sekitar 9 kilogram. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena berdampak langsung terhadap produktivitas dan keuntungan usaha tani.
Peluang Apel Fuji untuk Program MBG
Diskusi kemudian dilanjutkan oleh Yusron, yang menyampaikan gagasannya mengenai pengembangan budidaya apel Putsa sebagai salah satu komoditas pendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, kebutuhan buah untuk program MBG akan terus meningkat sehingga diperlukan persiapan stok komoditas buah yang memadai. Saat ini dirinya juga berperan sebagai pemasok buah jeruk ke 13 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan skema distribusi 10 buah jeruk per paket senilai Rp13.000.
Belajar dari Thailand untuk Meningkatkan Produksi Anggur
Pengalaman menarik disampaikan oleh Dwi yang memperkenalkan komunitas “Duta Peng-Angguran”.
Ia menjelaskan bahwa saat ini mengelola dua unit greenhouse anggur dan mengembangkan teknik budidaya yang dipelajari langsung dari petani Thailand. Melalui pendekatan tersebut, produktivitas kebun anggurnya meningkat signifikan dari rata-rata 8 kilogram menjadi 20 kilogram per tanaman.
Potensi Ekspor Cabe Jamu dari Jember
Pada kesempatan yang sama, Uswatun menjelaskan peluang ekspor beberapa komoditas hortikultura asal Jember.
Salah satu komoditas yang dinilai memiliki prospek pasar internasional adalah cabe jamu atau puyang. Menurutnya, komoditas tersebut mampu memberikan pendapatan yang cukup menjanjikan bagi petani dan pelaku usaha dengan nilai usaha yang mencapai puluhan juta rupiah per bulan.
Ketua P4S Soko Jati Cinta Nusantara Soroti Tingginya Biaya Produksi Jeruk
Pada sesi akhir diskusi, Ketua P4S Soko Jati Cinta Nusantara, Rhezky Mahardianto, menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi petani jeruk di Kabupaten Jember.
Beliau menjelaskan bahwa selama hampir 10 tahun mengembangkan usaha tani jeruk secara swadaya, pihaknya belum banyak melibatkan akademisi dalam proses pengembangan teknologi budidaya.
Karena itu, beliau menyampaikan apresiasi kepada Prof. Anang dan Dr. Sigit yang telah membuka ruang kolaborasi antara petani, peneliti, dan akademisi melalui PERHORTI.
Dalam paparannya, Rhezky menjelaskan bahwa biaya produksi jeruk saat ini masih tergolong tinggi, mencapai sekitar Rp300.000 per pohon per tahun dengan produktivitas rata-rata sekitar 100 kilogram buah per pohon. Selain itu, daya simpan buah jeruk pascapanen juga menjadi persoalan serius karena saat ini hanya mampu bertahan sekitar satu minggu.
Beliau juga menyampaikan bahwa dirinya tergabung dalam kepengurusan Serikat Tani Laskar Sholawat Nusantara, sebuah organisasi pertanian yang dibentuk dan didukung oleh Muhammad Fawait> sebagai wadah penguatan sektor pertanian di Kabupaten Jember.
Menurutnya, organisasi tersebut mendorong terwujudnya sistem pertanian yang terintegrasi dan berbasis kolaborasi. Sejalan dengan berbagai kajian yang berkembang di PERHORTI, P4S Soko Jati Cinta Nusantara menargetkan efisiensi biaya produksi jeruk hingga turun menjadi sekitar Rp150.000 per pohon per tahun, dengan tetap menjaga produktivitas dan kualitas buah sehingga mampu memberikan keuntungan yang lebih baik bagi petani.
Pertemuan PERHORTI Jawa Timur ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya berbagai kolaborasi antara petani, akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah dalam menjawab tantangan hortikultura sekaligus memperkuat daya saing pertanian Indonesia di masa mendatang.
