


Yogyakarta, 20 April 2026 – Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Soko Jati Cinta Nusantara, Rhezky Mahardianto, mendapat undangan untuk menghadiri Simposium Internasional Penutupan Proyek Penelitian ACIAR HORT/2019/164 yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR). Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 20 April 2026, ini menjadi bagian dari rangkaian akhir proyek penelitian internasional bertajuk “Preparedness and Management of Huanglongbing (Citrus Greening Disease) to Safeguard the Future of Citrus Industry in Australia, China and Indonesia.”
Simposium tersebut merupakan puncak dari kolaborasi penelitian yang telah berlangsung selama lima tahun antara Indonesia, Australia, dan Tiongkok dalam upaya menghadapi ancaman penyakit Huanglongbing (HLB) atau yang dikenal masyarakat sebagai penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration). Selain menjadi forum ilmiah, kegiatan ini juga menjadi wadah mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, dan petani jeruk dari berbagai sentra produksi di Indonesia untuk saling berbagi pengalaman dan inovasi budidaya.
Acara dibuka oleh pimpinan Fakultas Pertanian UGM yang diwakili Prof. Subejo selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama. Sambutan kemudian disampaikan oleh Prof. Suherman, yang menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam memperkuat riset pertanian. Pengantar kegiatan dilanjutkan oleh Dr. Meena Thakur dan Prof. Dr. Ir. Siti Subandiyah, yang memaparkan perjalanan proyek penelitian serta strategi pengelolaan penyakit HLB demi menjaga keberlanjutan industri jeruk di kawasan Asia-Pasifik.
Pada sesi ilmiah, para peserta memperoleh berbagai materi mengenai perkembangan penyakit HLB yang saat ini menjadi ancaman utama bagi produksi jeruk di berbagai negara. Paparan diawali oleh Intan Muliani Fajarsari, yang menjelaskan arah kebijakan pengembangan jeruk nasional. Selanjutnya, Dr. Nerida Donovan memaparkan mekanisme kerusakan tanaman akibat HLB, sementara Dr. Meena Thakur menjelaskan siklus hidup serangga vektor Asian Citrus Psyllid (ACP) yang menjadi penyebar utama penyakit tersebut. Materi ditutup oleh Alan Soffan, Ph.D. yang memperkenalkan inovasi perangkap dan teknologi pengendalian ACP.
Tidak hanya menghadirkan para ilmuwan dan peneliti, simposium ini juga mengundang petani jeruk dari berbagai sentra produksi di Indonesia yang selama lima tahun menjadi mitra dalam proyek penelitian ACIAR. Para peserta berasal dari Bengkulu, Sambas (Kalimantan Barat), Kintamani (Bali), Purwokerto (Jawa Tengah), Garut (Jawa Barat), Malang (Jawa Timur), dan Jember (Jawa Timur). Kehadiran para petani bertujuan memperkuat hubungan antara dunia akademik dan pelaku usaha tani, sekaligus menjadi ruang berbagi pengalaman, tantangan, serta inovasi budidaya jeruk yang berkembang di masing-masing daerah.
Sebagai perwakilan Kabupaten Jember, Ketua P4S Soko Jati Cinta Nusantara, Rhezky Mahardianto, memperoleh kesempatan memperkenalkan inovasi budidaya jeruk “MAJU (5×7)”, yaitu sistem penanaman dengan jarak tanam 5 meter × 7 meter yang dipadukan dengan pengelolaan drainase melalui saluran sedalam 1,5 meter dan lebar 1 meter. Inovasi tersebut dirancang untuk memperbaiki tata air, meningkatkan kesehatan tanah, serta menciptakan lingkungan tumbuh yang lebih ideal bagi tanaman jeruk.
Setiap perwakilan petani mempresentasikan inovasi yang telah diterapkan di daerahnya masing-masing. Ramli dari Sambas memaparkan teknik budidaya Moraga, sedangkan Nanda dari Malang memperkenalkan penerapan mekanisasi pertanian pada budidaya jeruk yang diadaptasi dari praktik pertanian modern di Australia. Sementara itu, perwakilan dari daerah lainnya turut membagikan pengalaman mengenai pengendalian penyakit, pengelolaan kebun, serta strategi peningkatan produktivitas yang menjadi bahan diskusi bersama para peneliti internasional.
Menurut Rhezky Mahardianto, keikutsertaan dalam simposium internasional ini memberikan banyak wawasan baru mengenai pengelolaan penyakit HLB, inovasi teknologi budidaya, hingga pentingnya sinergi antara petani, akademisi, pemerintah, dan lembaga riset internasional.
“Kami tidak hanya datang untuk belajar, tetapi juga membawa pengalaman petani Jember agar dapat menjadi bagian dari diskusi ilmiah internasional. Harapannya, inovasi yang berkembang di tingkat petani dapat dipadukan dengan hasil penelitian para akademisi sehingga menghasilkan solusi yang benar-benar aplikatif di lapangan,” ungkapnya.
Partisipasi P4S Soko Jati Cinta Nusantara dalam simposium ini menjadi pengakuan bahwa pengalaman petani memiliki posisi penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Kolaborasi yang terbangun selama lima tahun melalui proyek ACIAR diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang tidak hanya memperkuat ketahanan industri jeruk Indonesia terhadap ancaman penyakit HLB, tetapi juga meningkatkan daya saing petani melalui penerapan teknologi dan sistem budidaya yang lebih berkelanjutan.
Kegiatan ini juga memperkuat komitmen kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, dan petani dalam mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan, sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya pada aspek ketahanan pangan, pendidikan berkualitas, inovasi, produksi berkelanjutan, perlindungan ekosistem daratan, dan kemitraan global.
