BRIN dan Pemerintah Kabupaten Jember Susun Roadmap Kolaborasi Riset Hortikultura Berbasis Permasalahan Lapangan melalui Pendekatan Low Cost–High Impact sebagai Penguat Program Jember Baru Jember Maju

Membangun Fondasi Kerja Sama Strategis untuk Masa Depan Pertanian Jember

Purwodadi, Pasuruan – Upaya memperkuat sinergi antara dunia penelitian dan pemerintah daerah terus menunjukkan perkembangan yang positif. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pemerintah Kabupaten Jember memulai langkah awal penyusunan kerangka kerja sama penelitian melalui kegiatan Koordinasi Rencana Penyusunan Kerja Sama BRIN dan Pemerintah Kabupaten Jember yang dilaksanakan pada Rabu, 8 Juli 2026, bertempat di Ruang Mahoni, Kawasan Kebun Raya Purwodadi BRIN, Pasuruan, Jawa Timur.

Forum tersebut bukan sekadar menjadi ruang diskusi administratif mengenai penyusunan Nota Kesepahaman (NKS), melainkan menjadi wadah strategis untuk mempertemukan pengalaman empiris petani, kebutuhan pembangunan daerah, serta perspektif ilmiah para peneliti BRIN dalam merumuskan arah pembangunan pertanian Kabupaten Jember yang berbasis ilmu pengetahuan. Selama hampir enam jam, para peserta mendiskusikan berbagai persoalan mendasar yang selama ini dihadapi petani, mulai dari penurunan produktivitas tanaman hortikultura, degradasi kualitas tanah, persoalan benih, hingga tantangan hilirisasi hasil riset agar mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Lebih dari itu, forum ini menghasilkan kesamaan pandangan bahwa penelitian yang akan dikembangkan bersama tidak diarahkan pada proyek-proyek besar yang membutuhkan investasi tinggi pada tahap awal. Sebaliknya, kolaborasi BRIN dan Pemerintah Kabupaten Jember akan mengedepankan pendekatan berbiaya rendah (low cost) namun memberikan dampak yang signifikan (high impact), sehingga hasil penelitian dapat segera diterapkan dan dirasakan manfaatnya oleh petani. Pendekatan tersebut dipandang lebih realistis sekaligus sejalan dengan kebutuhan pembangunan daerah yang menginginkan inovasi cepat, tepat sasaran, dan berbasis pada persoalan nyata di lapangan.

Forum koordinasi ini juga menjadi momentum penting karena Kabupaten Jember diproyeksikan sebagai daerah pertama yang menginisiasi model kolaborasi riset tersebut. Berbagai agenda penelitian yang dirumuskan masih difokuskan pada karakteristik pertanian Kabupaten Jember dan belum diimplementasikan di daerah lain. Dengan demikian, Jember akan menjadi lokasi awal (pilot project) dalam pengembangan model penelitian hortikultura berbasis kebutuhan daerah yang diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan wilayah lain di masa mendatang.

Inisiatif tersebut sekaligus menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap visi pembangunan daerah “Jember Baru Jember Maju”, khususnya dalam membangun sektor pertanian yang modern, berbasis inovasi, berdaya saing, serta mampu meningkatkan kesejahteraan petani melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah peneliti senior dari Pusat Riset Hortikultura BRIN, di antaranya Dr. Ir. Hardiyanto, M.Sc., Dr. Ir. Anang Triwiratno, M.P., Dr. Sri Widyaningsih, S.P., M.P., Dr. Ir. Mizu Istianto, M.P., Dr. Farida Yulianti, S.TP., M.P., Ir. Mutia Erti Dwiastuti, M.S., Ir. Nirmala Friyanti Devy, M.Sc., serta peneliti lainnya. Hadir pula Ketua P4S Soko Jati Cinta Nusantara Rhezky Mahardianto, perwakilan Perhimpunan Hortikultura Indonesia (Perhorti), praktisi pertanian, serta tim pengelola P4S yang selama ini aktif membangun jejaring kolaborasi antara petani, pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian.

Dari Persoalan Lapangan Menuju Kolaborasi Riset

Berbeda dengan banyak forum koordinasi yang diawali dengan pemaparan konsep, diskusi kali ini dimulai dari persoalan nyata yang dihadapi petani di lapangan. Ketua P4S Soko Jati Cinta Nusantara, Rhezky Mahardianto, membuka pembahasan dengan menjelaskan bahwa inisiatif membangun kerja sama bersama BRIN merupakan tindak lanjut dari komunikasi yang telah dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten Jember.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Jember memberikan ruang yang sangat terbuka terhadap pengembangan riset pertanian. Bahkan, Sekretaris Daerah Kabupaten Jember telah memberikan arahan agar disusun sebuah kerangka kerja sama yang komprehensif sebagai dasar komunikasi resmi dengan BRIN. Kerangka tersebut diharapkan tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi mampu melahirkan peta jalan penelitian yang dapat dijalankan secara berkelanjutan dalam kurun waktu lima tahun.

Rhezky menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Jember memerlukan model kerja sama yang tidak berhenti pada kegiatan penelitian semata, tetapi mampu menghasilkan solusi yang dapat segera diterapkan oleh masyarakat. Oleh karena itu, penyusunan roadmap lima tahun menjadi penting agar pemerintah daerah memiliki gambaran yang jelas mengenai tahapan kegiatan, target capaian, serta manfaat yang akan diperoleh petani dari kolaborasi tersebut.

Ia menegaskan bahwa arah penelitian yang sedang dirancang bersama BRIN mengutamakan program-program yang sederhana, mudah diterapkan, dan memiliki dampak luas terhadap perbaikan sistem pertanian. Filosofi “low cost, high impact” menjadi salah satu prinsip yang disepakati dalam penyusunan roadmap, sehingga setiap kegiatan penelitian diharapkan mampu menghasilkan solusi yang efisien dari sisi pembiayaan namun memberikan manfaat nyata bagi peningkatan produktivitas, efisiensi usaha tani, dan kesejahteraan petani.

Menurutnya, pembangunan pertanian tidak lagi dapat dilakukan secara parsial. Persoalan yang dihadapi petani saat ini sangat kompleks dan saling berkaitan. Kesehatan tanah memengaruhi kualitas tanaman, kualitas tanaman menentukan mutu hasil panen, sementara mutu hasil panen sangat menentukan daya saing produk di pasar. Karena itu, pendekatan berbasis penelitian menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda lagi.

P4S Menjadi Penghubung antara Petani, Pemerintah, dan Peneliti

Dalam paparannya, Rhezky juga menjelaskan posisi P4S Soko Jati Cinta Nusantara sebagai lembaga pelatihan pertanian yang tidak hanya berfungsi menyelenggarakan pendidikan bagi petani, tetapi juga menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dengan dunia akademik dan lembaga penelitian.

Selama beberapa bulan terakhir, P4S secara aktif membangun komunikasi dengan berbagai institusi, mulai dari Fakultas Pertanian Universitas Jember, Universitas Brawijaya, hingga BRIN. Berbagai kunjungan ilmiah yang dilakukan tidak semata-mata bertujuan membangun jejaring, tetapi juga mengidentifikasi persoalan-persoalan yang benar-benar membutuhkan dukungan penelitian.

Rhezky menyampaikan bahwa Kabupaten Jember memiliki potensi hortikultura yang sangat besar, khususnya pada komoditas jeruk. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu memberikan kesejahteraan yang optimal bagi petani karena berbagai persoalan teknis yang belum terselesaikan selama bertahun-tahun.

Ia menilai bahwa selama ini petani sering kali memperoleh solusi yang bersifat parsial. Ketika muncul masalah produksi, petani diarahkan menambah dosis pupuk. Ketika tanaman terserang penyakit, solusi yang diberikan adalah peningkatan penggunaan pestisida. Sementara itu, akar persoalan yang sebenarnya belum pernah dipetakan secara ilmiah dan menyeluruh.

“Pertanian membutuhkan diagnosis yang tepat sebagaimana dunia kesehatan. Sebelum memberikan terapi, penyebab penyakitnya harus dipahami terlebih dahulu,” menjadi semangat yang tersirat dari paparan Ketua P4S ketika menjelaskan pentingnya riset berbasis kebutuhan lapangan.

Menjawab Harapan Pemerintah Kabupaten Jember

Dalam forum tersebut, Rhezky juga menyampaikan bahwa salah satu pertimbangan utama penyusunan kerja sama ini adalah harapan Pemerintah Kabupaten Jember agar inovasi pertanian mampu memberikan hasil yang cepat dirasakan masyarakat.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Jember menaruh perhatian besar terhadap sektor pertanian karena merupakan salah satu penopang utama perekonomian daerah. Oleh sebab itu, pemerintah daerah berharap BRIN dapat menghadirkan inovasi-inovasi yang aplikatif sehingga hasil penelitian tidak berhenti sebagai laporan ilmiah, tetapi benar-benar diterapkan di tingkat petani.

Pendekatan penelitian berbasis biaya rendah dengan dampak signifikan dipandang menjadi strategi yang tepat untuk menjawab kebutuhan tersebut. Program-program awal akan diarahkan pada penyelesaian persoalan yang paling mendesak, seperti peningkatan kesehatan tanah, evaluasi teknik budidaya, kualitas benih, efisiensi pemupukan, dan peningkatan mutu hasil panen. Dengan demikian, manfaat penelitian diharapkan dapat dirasakan lebih cepat oleh petani sekaligus menjadi pijakan penyusunan program jangka panjang.

Harapan tersebut juga berkaitan dengan upaya pemerintah dalam mendukung program nasional, termasuk penyediaan komoditas pertanian yang berkualitas bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Untuk mewujudkan hal tersebut, peningkatan kualitas produksi hortikultura menjadi salah satu agenda penting yang perlu mendapatkan perhatian.

Ketika Kualitas Buah Menentukan Harga

Salah satu persoalan yang paling mendapat perhatian dalam diskusi adalah rendahnya daya simpan buah jeruk setelah dipanen. Berdasarkan pengalaman pemasaran yang dilakukan P4S, penurunan kualitas buah terjadi dalam waktu yang relatif singkat sehingga berdampak langsung terhadap harga jual di pasar.

Rhezky menceritakan bahwa pengiriman jeruk ke luar daerah memberikan gambaran yang sangat nyata mengenai persoalan tersebut. Pada hari pertama setelah panen, jeruk masih mampu dihargai sekitar Rp12.000 per kilogram. Namun, hanya dalam satu hari berikutnya, harga tersebut turun menjadi sekitar Rp10.000 per kilogram karena kesegaran buah mulai berkurang.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan pascapanen tidak hanya berkaitan dengan teknik penyimpanan, tetapi diduga berhubungan erat dengan kondisi fisiologis tanaman, keseimbangan unsur hara, kesehatan tanah, hingga teknik budidaya yang diterapkan selama proses produksi. Persoalan inilah yang akan menjadi salah satu fokus penelitian awal dalam kolaborasi BRIN dan Pemerintah Kabupaten Jember karena memiliki dampak langsung terhadap pendapatan petani.

Belajar dari Sejarah Budidaya Jeruk Jember

Sebagai petani yang tumbuh di lingkungan sentra jeruk Umbulsari, Rhezky kemudian membagikan perjalanan panjang perkembangan budidaya jeruk di wilayahnya.

Ia menceritakan bahwa keluarganya mulai menanam jeruk sekitar tahun 1990 dengan luas lahan sekitar satu hektare menggunakan jarak tanam 5 × 5 meter. Pada masa itu, sistem budidaya masih sederhana dan belum menggunakan saluran drainase khusus sebagaimana banyak diterapkan saat ini.

Benih yang digunakan berasal dari Yogyakarta. Menurut pengalaman lapangan, tanaman menunjukkan pertumbuhan yang baik dan menghasilkan buah dengan kualitas yang cukup tinggi. Bahkan, buah jeruk pada saat itu memiliki daya simpan yang sangat baik sehingga mampu bertahan dalam waktu relatif lama setelah dipanen.

Namun keberhasilan tersebut tidak berlangsung selamanya. Memasuki tahun 1998, serangan penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) menyebabkan kerusakan besar pada pertanaman jeruk di wilayah Umbulsari. Sekitar lima hektare hamparan jeruk mengalami kerusakan berat sehingga banyak petani harus memulai kembali usaha taninya dari awal.

Pengalaman tersebut menjadi titik balik perubahan sistem budidaya jeruk di Kabupaten Jember. Sejak tahun 2000, petani mulai menggunakan benih lokal Umbulsari dengan batang bawah JC sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi lapangan. Berbagai teknik budidaya juga mengalami perubahan, termasuk pola pemupukan dan pemeliharaan tanaman.

Rhezky mengungkapkan bahwa pada periode tersebut pernah ditemukan tanaman dengan pertumbuhan yang sangat baik setelah dilakukan pengelolaan tertentu. Pohon memiliki tinggi hingga sekitar lima meter dengan ukuran buah relatif besar. Menariknya, penggunaan pupuk pada masa itu masih relatif sederhana, namun buah yang dihasilkan mampu bertahan hingga sekitar satu bulan di pasar tanpa mengalami penyusutan kualitas secara signifikan.

Pengalaman empiris tersebut menjadi salah satu alasan kuat mengapa P4S mengajak BRIN melakukan penelitian bersama. Menurutnya, terdapat banyak pengetahuan lapangan yang selama ini hanya menjadi pengalaman petani, namun belum pernah dibuktikan melalui pendekatan ilmiah. Apabila pengalaman tersebut dapat diverifikasi melalui penelitian, bukan tidak mungkin akan ditemukan model pengelolaan pertanian yang berbiaya rendah, berdampak signifikan, dan khas Kabupaten Jember, sehingga mampu menjadi fondasi pengembangan pertanian modern yang mendukung terwujudnya visi “Jember Baru Jember Maju.”

BRIN Dorong Hilirisasi Riset dan Penyusunan Roadmap Berbasis Bukti Ilmiah

Setelah memperoleh gambaran mengenai berbagai persoalan yang dihadapi petani di Kabupaten Jember, forum koordinasi memasuki pembahasan mengenai mekanisme kelembagaan dan arah penelitian yang perlu dibangun bersama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Pemerintah Kabupaten Jember. Para peneliti menilai bahwa tantangan pertanian yang dipaparkan dalam forum tersebut tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan sektoral, melainkan memerlukan kolaborasi multidisiplin yang didukung oleh tata kelola kerja sama yang jelas.

Hilirisasi Menjadi Arah Baru Penelitian BRIN

Menanggapi berbagai persoalan yang disampaikan Ketua P4S Soko Jati Cinta Nusantara, Dr. Ir. Hardiyanto, M.Sc., Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Hortikultura BRIN, menjelaskan bahwa arah kebijakan BRIN saat ini mengalami perubahan yang sangat signifikan. Penelitian tidak lagi hanya berorientasi pada publikasi ilmiah, tetapi diarahkan agar mampu menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan secara langsung oleh masyarakat.

Menurut beliau, Kepala BRIN memberikan arahan kepada seluruh peneliti agar lebih banyak hadir di lapangan dan memahami persoalan riil yang dihadapi petani. Paradigma tersebut menempatkan proses hilirisasi sebagai salah satu indikator utama keberhasilan penelitian. Artinya, hasil riset harus mampu menjawab kebutuhan pembangunan, meningkatkan produktivitas pertanian, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Beliau menilai bahwa persoalan yang dipaparkan dalam forum bukan sekadar permasalahan teknis budidaya, tetapi telah berkembang menjadi isu pembangunan pertanian yang membutuhkan dukungan penelitian secara berkelanjutan. Oleh sebab itu, kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Jember harus dibangun secara sistematis agar setiap kegiatan penelitian memiliki arah, target, serta luaran yang jelas.

Dalam pandangan Dr. Hardiyanto, keberhasilan sebuah kolaborasi penelitian tidak hanya ditentukan oleh kualitas ide, tetapi juga oleh kekuatan kelembagaan yang mendukungnya. Karena itu, sebelum penelitian dilaksanakan, perlu disusun dokumen administrasi yang lengkap berupa Nota Kesepakatan Sementara (NKS), Kerangka Acuan Kerja (KAK), pembagian peran setiap institusi, hingga dukungan resmi dari Pemerintah Kabupaten Jember dan Pusat Riset Hortikultura BRIN.

Beliau menambahkan bahwa seluruh kegiatan yang melibatkan peneliti BRIN harus memiliki dasar administrasi yang jelas. Bahkan untuk penugasan sebagai narasumber sekalipun, BRIN memerlukan Kerangka Acuan Kerja yang telah disetujui oleh kedua belah pihak sehingga seluruh aktivitas penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun administratif.

Penjelasan tersebut sekaligus menjadi arahan penting bagi P4S Soko Jati Cinta Nusantara dan Pemerintah Kabupaten Jember dalam menyiapkan tahapan awal kerja sama. Dengan adanya dasar kelembagaan yang kuat, kegiatan penelitian diharapkan dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa bergantung pada individu tertentu.

Pemerintah Daerah Menjadi Penggerak Utama Kolaborasi

Senada dengan Dr. Hardiyanto, Dr. Ir. Anang Triwiratno, M.P., selaku moderator forum sekaligus Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Hortikultura BRIN, menekankan bahwa keberhasilan kolaborasi sangat bergantung pada komitmen pemerintah daerah.

Beliau menjelaskan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah membangun komunikasi formal melalui surat resmi Pemerintah Kabupaten Jember yang ditujukan kepada Kepala BRIN. Surat tersebut menjadi pintu masuk untuk memulai proses penyusunan Nota Kesepahaman sebagai dasar pelaksanaan berbagai kegiatan penelitian di masa mendatang.

Menurut Dr. Anang, pendekatan tersebut bukan sekadar memenuhi prosedur birokrasi, melainkan menunjukkan adanya komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di sektor pertanian.

Beliau juga mengusulkan agar model pembiayaan kerja sama lebih banyak menggunakan skema in-kind, yaitu masing-masing institusi memberikan kontribusi sesuai kapasitas yang dimiliki. Pemerintah daerah dapat menyediakan lokasi penelitian, data, pendamping lapangan, serta dukungan kelembagaan. Di sisi lain, BRIN menghadirkan sumber daya peneliti, metodologi ilmiah, fasilitas laboratorium, hingga analisis hasil penelitian.

Pendekatan tersebut dinilai lebih realistis untuk tahap awal kerja sama karena tidak sepenuhnya bergantung pada pembiayaan pemerintah, tetapi tetap mampu menghasilkan keluaran penelitian yang berkualitas.

Menentukan Prioritas Permasalahan

Selain membahas mekanisme kelembagaan, Dr. Anang juga mengingatkan pentingnya menentukan fokus penelitian sejak awal. Beliau menilai bahwa permasalahan pertanian di Kabupaten Jember sangat kompleks sehingga tidak mungkin seluruhnya diselesaikan dalam satu program penelitian.

Karena itu, penelitian awal perlu diarahkan pada persoalan yang paling mendesak dan paling berdampak terhadap kesejahteraan petani.

Dalam forum tersebut, beberapa isu prioritas mulai mengemuka, di antaranya identifikasi mutu benih, evaluasi teknik budidaya, penyebab tanaman tidak memasuki fase generatif dalam waktu normal, hingga penurunan kualitas buah setelah panen.

Menurut beliau, penentuan prioritas penelitian akan memudahkan penyusunan roadmap lima tahun yang sebelumnya diusulkan oleh Ketua P4S. Dengan adanya roadmap tersebut, setiap penelitian tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan sehingga mampu menghasilkan inovasi yang berkesinambungan.

Benih Menjadi Fondasi Produktivitas Tanaman

Perspektif ilmiah mengenai kualitas benih disampaikan oleh Dr. Sri Widyaningsih, S.P., M.P., Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Hortikultura BRIN.

Beliau menjelaskan bahwa saat ini BRIN tengah mengembangkan proposal penelitian internasional bersama Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) yang masih berada pada tahap pengajuan. Salah satu fokus penelitian tersebut adalah pengujian berbagai jenis batang bawah jeruk dari Australia dan Tiongkok yang memiliki karakteristik berbeda-beda.

Menurut Dr. Wiwid, sekitar 8.000 batang tanaman akan diuji menggunakan enam jenis batang bawah pada berbagai kondisi agroekosistem. Kabupaten Jember berpeluang menjadi salah satu lokasi penelitian apabila memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan dalam proyek tersebut.

Beliau menjelaskan bahwa batang bawah sering kali dianggap sebagai bagian tanaman yang kurang penting oleh petani. Padahal secara fisiologis, batang bawah mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbuhan tanaman, kemampuan penyerapan unsur hara, ketahanan terhadap cekaman lingkungan, hingga produktivitas tanaman dalam jangka panjang.

Lebih jauh lagi, pemilihan batang bawah yang tepat mampu meningkatkan toleransi tanaman terhadap penyakit penting jeruk, seperti Phytophthora maupun Citrus Tristeza Virus (CTV).

Beliau juga menjelaskan bahwa karakter kanopi tanaman sangat dipengaruhi oleh kombinasi batang bawah dan batang atas. Pada beberapa varietas introduksi, pembentukan kanopi berlangsung lebih cepat dan lebih rapat dibandingkan beberapa jenis batang bawah lokal. Perbedaan karakter tersebut berpengaruh terhadap efisiensi fotosintesis, sirkulasi udara di dalam tajuk, hingga kualitas buah yang dihasilkan.

Dalam konteks Kabupaten Jember, Dr. Sri melihat bahwa persoalan panjangnya fase juvenil tanaman yang disampaikan oleh petani kemungkinan tidak hanya dipengaruhi oleh teknik budidaya, tetapi juga berkaitan erat dengan pemilihan bahan tanam sejak awal.

Beliau kemudian menyarankan agar penelitian tidak hanya membandingkan teknik budidaya yang digunakan petani, tetapi juga melakukan evaluasi terhadap asal benih, karakter batang bawah, kondisi tanah, serta interaksi antar faktor tersebut.

Menjawab Pertanyaan Mengapa Tanaman Tidak Berbuah

Salah satu persoalan yang cukup mendapat perhatian dalam forum adalah banyaknya tanaman jeruk yang belum memasuki fase berbuah meskipun umur tanaman telah mencapai lima tahun.

Menurut Dr. Sri Widyaningsih, kondisi tersebut tidak dapat disimpulkan hanya dari satu penyebab. Dalam ilmu hortikultura, keterlambatan pembungaan dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, kesesuaian batang bawah, kondisi lingkungan, keseimbangan unsur hara, hingga teknik pemangkasan dan pemeliharaan yang diterapkan petani.

Oleh karena itu, beliau mengusulkan agar penelitian yang akan dilaksanakan nantinya mampu memisahkan pengaruh masing-masing faktor melalui pendekatan ilmiah sehingga rekomendasi yang dihasilkan benar-benar berbasis data.

Evaluasi Teknik Budidaya Harus Menjadi Prioritas

Pandangan tersebut diperkuat oleh Dr. Ir. Mizu Istianto, M.P., Peneliti Ahli Utama BRIN yang selama ini banyak berkecimpung dalam penelitian hortikultura.

Beliau mengawali tanggapannya dengan pertanyaan sederhana kepada peserta forum mengenai frekuensi penyemprotan tanaman jeruk yang dilakukan petani di Kabupaten Jember.

Pertanyaan tersebut bukan sekadar ingin mengetahui jadwal aplikasi pestisida, melainkan untuk memahami keseluruhan sistem budidaya yang diterapkan di lapangan.

Menurut beliau, intensitas penggunaan pestisida dapat menjadi indikator awal mengenai tingkat tekanan organisme pengganggu tanaman maupun pola pengelolaan kebun yang selama ini dilakukan petani.

Dr. Mizu menegaskan bahwa penelitian tidak boleh berhenti pada identifikasi gejala. Yang jauh lebih penting adalah memahami hubungan sebab-akibat antara teknik budidaya dengan kualitas hasil produksi.

Karena itu, beliau mengusulkan agar kerja sama BRIN dengan Pemerintah Kabupaten Jember memprioritaskan evaluasi teknik budidaya, evaluasi kualitas benih, serta evaluasi mutu buah sebagai satu paket penelitian yang saling terintegrasi.

Menurutnya, ketiga aspek tersebut merupakan fondasi utama untuk menjawab berbagai persoalan produktivitas jeruk di Kabupaten Jember. Tanpa evaluasi yang menyeluruh, berbagai rekomendasi yang diberikan kepada petani berpotensi hanya menjadi solusi jangka pendek dan belum tentu mampu menyelesaikan akar permasalahan yang sebenarnya.

Penguatan Sumber Daya Genetik, Kesehatan Tanah, dan Roadmap Riset sebagai Fondasi Pertanian Jember Berkelanjutan

Setelah membahas aspek kelembagaan, tata kelola kerja sama, kualitas benih, serta evaluasi teknik budidaya, forum koordinasi memasuki pembahasan yang lebih mendalam mengenai aspek ilmiah yang menjadi fondasi pembangunan pertanian berkelanjutan. Para peneliti BRIN sepakat bahwa penyelesaian persoalan pertanian Kabupaten Jember tidak dapat dilakukan hanya melalui peningkatan produktivitas tanaman, tetapi juga harus diawali dengan pemahaman terhadap karakteristik sumber daya genetik, kesehatan tanah, keseimbangan mikrobiologi lahan, serta pengelolaan lingkungan budidaya secara menyeluruh.

Potensi Plasma Nutfah Lokal Perlu Menjadi Fokus Penelitian

Pembahasan mengenai sumber daya genetik disampaikan oleh Dr. Farida Yulianti, S.TP., M.P., Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Hortikultura BRIN. Menurut beliau, setiap wilayah memiliki karakter genetik tanaman yang berbeda sehingga pendekatan penelitian tidak dapat disamaratakan antar daerah.

Beliau menjelaskan bahwa performa suatu varietas tidak hanya ditentukan oleh faktor genetik yang dimiliki tanaman, tetapi juga oleh interaksi antara genotipe dengan lingkungan tempat tanaman tersebut tumbuh. Dalam ilmu pemuliaan tanaman, fenomena ini dikenal sebagai interaksi genotipe dan lingkungan, yaitu kondisi ketika varietas yang menunjukkan performa sangat baik pada suatu lokasi belum tentu memberikan hasil yang sama apabila ditanam pada kondisi agroekosistem yang berbeda.

Dalam konteks Kabupaten Jember, kondisi tanah, iklim, pola curah hujan, ketersediaan air, serta kebiasaan budidaya masyarakat menjadi faktor yang dapat memengaruhi penampilan tanaman secara keseluruhan. Oleh karena itu, menurut Dr. Farida, penelitian yang akan dikembangkan tidak cukup hanya mengamati produktivitas tanaman, tetapi juga harus mampu menjelaskan hubungan antara faktor genetik dan lingkungan tumbuh.

Beliau menilai bahwa Kabupaten Jember memiliki peluang besar untuk mengembangkan penelitian plasma nutfah jeruk lokal. Selama puluhan tahun, masyarakat telah membudidayakan berbagai tipe jeruk yang memiliki karakteristik berbeda, baik dari segi rasa, ukuran buah, produktivitas, maupun daya adaptasi terhadap lingkungan.

Potensi tersebut merupakan kekayaan genetik yang sangat berharga. Namun apabila tidak segera didokumentasikan melalui penelitian, maka keberadaan sumber daya genetik lokal berisiko hilang akibat perubahan sistem budidaya maupun masuknya berbagai varietas introduksi.

Jeruk Jawara Menjadi Salah Satu Materi Penting Penelitian

Dalam forum tersebut, Dr. Farida juga menyinggung keberadaan Jeruk Jawara, salah satu materi genetik yang sebelumnya telah melalui proses karakterisasi.

Beliau menjelaskan bahwa proses karakterisasi merupakan tahapan awal untuk mengenali identitas suatu varietas berdasarkan karakter morfologi, fisiologi, maupun sifat-sifat agronominya. Namun demikian, sebelum suatu varietas dilepas secara resmi sebagai varietas unggul, diperlukan proses verifikasi lanjutan untuk memastikan bahwa karakter genetik tanaman tersebut tetap stabil dari waktu ke waktu.

Hal ini menjadi penting mengingat perubahan lingkungan, teknik budidaya, maupun proses perbanyakan tanaman dapat memengaruhi penampilan tanaman di lapangan.

Melalui kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Jember, BRIN membuka peluang untuk melakukan pengujian kembali terhadap berbagai sumber daya genetik lokal sehingga nantinya dapat menjadi dasar pengembangan varietas unggul yang benar-benar sesuai dengan kondisi agroekosistem Kabupaten Jember.

Penelitian Tanah Tidak Boleh Berhenti pada Analisis Kimia

Perspektif mengenai kesehatan tanah kemudian diperdalam oleh Ir. Mutia Erti Dwiastuti, M.S., Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Hortikultura BRIN.

Beliau menyampaikan bahwa sejumlah sampel tanah yang sebelumnya telah dikumpulkan melalui Program RIIM akan dikembalikan ke Kabupaten Jember sebagai bagian dari tindak lanjut penelitian.

Salah satu temuan awal yang cukup menarik adalah belum ditemukannya kelompok mikroorganisme Actinobacteria pada lokasi penelitian di Kabupaten Jember.

Dalam ilmu mikrobiologi tanah, Actinobacteria merupakan kelompok mikroorganisme yang memiliki peranan sangat penting dalam proses dekomposisi bahan organik, pembentukan humus, serta produksi berbagai senyawa alami yang mampu menekan perkembangan patogen penyebab penyakit tanaman.

Ketiadaan kelompok mikroba tersebut dapat menjadi indikator bahwa ekosistem tanah telah mengalami perubahan yang cukup serius sehingga memerlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui faktor-faktor penyebabnya.

Selain itu, hasil pengamatan awal juga menunjukkan bahwa beberapa lokasi memiliki kondisi keasaman tanah yang relatif rendah. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas mikroorganisme tanah, ketersediaan unsur hara, hingga kemampuan akar tanaman dalam menyerap nutrisi.

Menurut Ir. Mutia, temuan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan akhir. Namun demikian, hasil awal tersebut cukup memberikan gambaran bahwa penelitian mengenai kesehatan tanah perlu menjadi salah satu prioritas dalam kerja sama BRIN dengan Pemerintah Kabupaten Jember.

Mengurangi Ketergantungan terhadap Pupuk Kimia

Melengkapi pembahasan mengenai kesehatan tanah, Ir. Nirmala Friyanti Devy, M.Sc. menyoroti pentingnya pemanfaatan pupuk hayati sebagai salah satu strategi memperbaiki ekosistem pertanian.

Beliau menjelaskan bahwa penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus tanpa diimbangi dengan pengelolaan bahan organik berpotensi menurunkan kualitas tanah dalam jangka panjang.

Pupuk hayati tidak hanya berfungsi menyediakan unsur hara, tetapi juga meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang berperan dalam proses biologis di dalam tanah. Kehadiran mikroorganisme tersebut akan membantu meningkatkan efisiensi pemanfaatan unsur hara sehingga kebutuhan pupuk kimia dapat dikurangi secara bertahap.

Menurut beliau, pendekatan ini sejalan dengan arah pembangunan pertanian berkelanjutan yang saat ini mulai dikembangkan di berbagai negara, yaitu mengurangi ketergantungan terhadap input sintetis melalui pemanfaatan sumber daya hayati lokal.

Beliau berharap penelitian yang akan dilaksanakan di Kabupaten Jember nantinya tidak hanya menghasilkan rekomendasi pemupukan, tetapi juga mampu mengembangkan paket teknologi pemanfaatan pupuk hayati yang sesuai dengan kondisi lahan setempat.

Persoalan Pertanian Tidak Berhenti pada Tanaman Jeruk

Pandangan yang lebih luas disampaikan oleh BapakIwan, yang mengingatkan bahwa persoalan kesehatan lingkungan pertanian tidak hanya terjadi pada komoditas jeruk.

Beliau menilai bahwa berbagai isu seperti limbah bahan kimia, degradasi kualitas tanah, maupun pencemaran lingkungan juga ditemukan pada komoditas pangan, hortikultura, dan tanaman lainnya.

Karena itu, ruang lingkup kerja sama BRIN dan Pemerintah Kabupaten Jember sebaiknya tidak dibatasi hanya pada satu komoditas, tetapi diarahkan menjadi platform kolaborasi penelitian pertanian secara menyeluruh.

Menurut beliau, pendekatan lintas komoditas akan menghasilkan dampak yang lebih besar karena berbagai teknologi yang dihasilkan nantinya dapat diterapkan pada sistem pertanian Kabupaten Jember secara umum.

Pembenah Tanah Menjadi Kunci Membangun Kembali Kesuburan Lahan

Perspektif praktis mengenai pengelolaan tanah disampaikan oleh Dwi Supriyanto dari Perhimpunan Hortikultura Indonesia (Perhorti).

Beliau menilai bahwa salah satu kelemahan pembangunan pertanian Indonesia selama ini adalah minimnya perhatian terhadap pembenahan tanah.

Menurutnya, sebagian besar petani masih berorientasi pada pemupukan kimia sebagai solusi utama meningkatkan produksi, sementara upaya memperbaiki kondisi fisik, kimia, dan biologi tanah masih sangat terbatas.

Berdasarkan pengalaman lapangan yang dimilikinya, penggunaan pembenah tanah mampu memberikan manfaat ekonomi yang cukup besar sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman.

Beliau juga membagikan pengalaman pemanfaatan pupuk organik berbasis kotoran hewan (KOHE) yang telah difermentasi.

Menurutnya, kombinasi pupuk kimia dengan pupuk organik yang difermentasi mampu mengurangi residu bahan kimia di dalam tanah sekaligus memperbaiki struktur tanah sehingga akar tanaman dapat berkembang lebih optimal.

Pengalaman tersebut diperoleh dari berbagai kegiatan budidaya jeruk maupun anggur yang selama ini dikembangkan bersama petani.

Beliau bahkan mencontohkan bahwa beberapa tanaman jeruk yang sebelumnya mengalami penurunan produktivitas selama bertahun-tahun mulai menunjukkan perbaikan setelah dilakukan pendekatan pembenahan tanah secara konsisten.

Digitalisasi Menjadi Bagian dari Diseminasi Hasil Penelitian

Selain membahas aspek teknis penelitian, forum juga menyoroti pentingnya penyebarluasan hasil inovasi kepada masyarakat.

Tim pengelola Website P4S Soko Jati Cinta Nusantara menyampaikan komitmennya untuk menyediakan menu khusus yang mendokumentasikan seluruh rangkaian kerja sama antara BRIN dan Pemerintah Kabupaten Jember.

Portal tersebut dirancang tidak hanya sebagai media publikasi kegiatan, tetapi juga sebagai pusat informasi hasil penelitian, rekomendasi teknologi, perkembangan demplot, hingga dokumentasi berbagai inovasi yang dihasilkan selama pelaksanaan kerja sama.

Ke depan, pengembangan platform digital tersebut direncanakan melibatkan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jember agar informasi yang dihasilkan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas sekaligus menjadi referensi bagi petani, penyuluh, akademisi, maupun pemerintah daerah.

Menyusun Roadmap Penelitian Berbasis Permasalahan Lapangan

Menjelang berakhirnya forum, seluruh peserta merumuskan sejumlah isu strategis yang akan menjadi dasar penyusunan roadmap penelitian BRIN dan Pemerintah Kabupaten Jember.

Berbagai persoalan yang muncul selama diskusi kemudian dikelompokkan menjadi agenda penelitian prioritas, yaitu evaluasi teknik budidaya tanaman jeruk, peningkatan kualitas buah, penyebab tanaman tidak berbuah, pemendekan fase juvenil tanaman, pengungkapan sumber daya genetik lokal, evaluasi stabilitas varietas Jeruk Jawara, peningkatan mutu buah untuk mendukung kebutuhan pasar dan program Makan Bergizi Gratis (MBG), penanganan pecah buah, rehabilitasi kesehatan tanah, karakterisasi limbah pertanian, hingga pengembangan indikator kesehatan lahan melalui parameter fisika, kimia, dan biologi tanah.

Selain komoditas jeruk, forum juga mengidentifikasi peluang penelitian pada komoditas lain, termasuk padi. Salah satu contoh yang mengemuka adalah temuan awal penelitian di Universitas Jember mengenai tingginya kadar natrium (Na) pada beberapa lahan sawah. Kondisi tersebut diduga menyebabkan tanah menjadi lebih padat sehingga perkembangan akar tanaman terganggu. Temuan tersebut membuka peluang kolaborasi riset lintas komoditas untuk mencari solusi berbasis ilmu pengetahuan.

Seluruh agenda tersebut selanjutnya akan dituangkan dalam dokumen Nota Kesepahaman dan roadmap penelitian lima tahunan yang menjadi dasar pelaksanaan kolaborasi antara BRIN dan Pemerintah Kabupaten Jember.

Melalui forum koordinasi ini, seluruh peserta memiliki kesamaan pandangan bahwa penelitian harus berangkat dari kebutuhan nyata petani, dilaksanakan melalui kolaborasi lintas institusi, dan diakhiri dengan penerapan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas, memperbaiki kualitas lingkungan, serta memperkuat daya saing pertanian Kabupaten Jember. Dengan fondasi tersebut, kerja sama BRIN dan Pemerintah Kabupaten Jember diharapkan menjadi model sinergi antara ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan praktik pertanian yang mampu memberikan manfaat nyata bagi pembangunan daerah dan kesejahteraan petani.

Leave a Comment

Lokasi P4S
Translate »